Feed

Mencari Dgn Google

Google

Gratis :

"Business Link"


MP3, Newsletter, Ebook Gratis dari Brian Tracy:

Brian Tracy Home Page
  • Yohanes Tantama

    Motivasi dibarengi dengan sikap mental positif akan membawa anda kepada kesuksesan yang sejati. ...... Mari kita hidup penuh semangat dan sukacita
  •  

    September 2010
    M T W T F S S
    « Jul    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Artikel Terbaru

  • Kategori

  • Kumpulan artikel

  • Masukan terbaru

    • magicalboy chandra: ini benar-benar motivasi buat saya yg lagi terpuruk dan di dalam hidup ini saya yakin gak ada yg...
    • echa: aku ga tau….apakah aku termasuk orang yang termasuk termotivasi apa ga,,,,tapi aku ngerasa,,,,kalo udah...
    • yohanes tantama: Memang tidak mudah tapi semoga kesadaran dari hati nurani masih membuat kita mau bergulat dengan...
    • Tangguh MP: Mr. Yohanes, setelah saya membaca artikel anda, muncul suatu pertanyaan dalam benak saya. bagamiana...
    • tony: Sekalipun tantangan demi tantangan menghadang..Zhang Da tetap tegar menghadapinya. Ketulusan dan kepolosan...
    • tony: Pak Yohanes, tks untuk artikel kaca spion-nya Andy Noya. Itulah sukacita Tuhan yang terpancar pd bung Andy....
    • : Salam kenal juga Pak
    • Rudy Hermawan: Penderitaan mendewasakan orang…cinta membuatnya semakin matang. Terima kasih untuk inspirasi...
    • Yohanes T: 1. Kita bisa berdiskusi Pak saling berbagi pengalaman. Kirim saja email ke yohanes.progress@gmail.com. 2....
    • Dedy Prasetio: Dear Mr Yohaness, saya membaca artikel anda sungguh menggugah saya untuk terus belajar dan belajar...
  • « “You don’t have to put an age limit on your dreams” | Home | Never Give Up……Keep Moving Forward…. »

    Apakah Kita Telah Berubah?

    By | September 14, 2008

    Suatu cerita yang dikirim oleh teman saya yang saya kira cukup punya banyak nilai untuk ditampilkan. Terimakasih untuk Bp. Andy yang menulis cerita ini.

    Kaca Spion
    oleh
    Andy F. Noya


    Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan
    Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari
    ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk
    baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
    Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga
    suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa
    lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya
    mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan
    dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi
    mengapa rasanya jauh berbeda?
    Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal
    rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

    Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu
    mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya.
    Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib
    yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya
    merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika
    masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum
    buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
    Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak
    gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna
    hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
    Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan
    sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah
    satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya
    bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang
    Indonesia .. Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia.

    Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus
    meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan
    Metro TV.
    Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di
    sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya
    menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan
    kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi
    menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu
    hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
    punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi
    sombong karenanya.


    Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak
    kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan
    menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya
    bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda
    milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion
    mobil itu patah.
    Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer
    saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah
    saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang
    sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi
    mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap
    menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma
    enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat
    tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di
    ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
    Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah
    dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan
    mobilnya. Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak
    bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca
    spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang
    senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang
    mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos
    menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua
    minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada
    tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit
    itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup
    sebulan.


    Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap
    akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil
    uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan
    uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir
    bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu
    ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah
    artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat
    kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
    Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah
    ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik
    mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci
    orang kaya.


    Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban
    mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
    Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
    Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka
    adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya
    putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu
    berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang
    terbalaskan.
    Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya
    di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal
    jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak
    punya hati nurani.


    Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa
    kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu
    tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah
    berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan
    kepada istri. Dia hanya tertawa. ”Andy Noya, kamu tidak usah merasa
    bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena
    sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu
    mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang,
    apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang
    enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,” ujarnya. Ketika dia melihat
    saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, “Kamu berhak untuk
    itu. Sebab kamu sudah bekerja keras.”


    Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama
    sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang
    kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya
    terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak
    lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado
    yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
    sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
    Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak
    sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca
    spionnya saya tabrak.


    Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
    kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika
    mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang
    dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak
    dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin
    melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya
    terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan
    kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
    Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
    Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat
    itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang
    merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang
    ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf
    atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha
    meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
    Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera
    luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
    Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah
    artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
    Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan
    begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu
    saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang
    pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup
    yang pahit.

    Topics: inspirational, success |

    One Response to “Apakah Kita Telah Berubah?”

    1. tony Says:
      November 17th, 2008 at 10:09 am

      Pak Yohanes, tks untuk artikel kaca spion-nya Andy Noya. Itulah sukacita Tuhan yang terpancar pd bung Andy. Kata-katanya : ” Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu ” . Tentunya itu yang menjadi kerinduan setiap dari kita yang mencintai kedamaian bukan ? Memang tidak mudah untuk melakoni sendiri spt bung Andy alami. kenyataannya banyak orang2 diluar sana yang ‘mudah emosi’ / melampiaskan apa yang menjadi kehendaknya tanpa memikirkan perasaan org lain / ingin menjadi ‘hakim’sendiri krn seolah-olah menghadapi kebuntuan dari yg berwenang. kalo kita berandai-andai bilamana semua mahluk dibumi mempunyai spt yg dirasakan bung Andy …wow alangkah indahnya bumi Indonesia ini ! Bersyukurlah bung Andy dan kita semua yang boleh merasakan Kasih Tuhan !

    Comments