Feed

Mencari Dgn Google

Google

Gratis :

"Business Link"


MP3, Newsletter, Ebook Gratis dari Brian Tracy:

Brian Tracy Home Page
  • Yohanes Tantama

    Motivasi dibarengi dengan sikap mental positif akan membawa anda kepada kesuksesan yang sejati. ...... Mari kita hidup penuh semangat dan sukacita
  •  

    September 2010
    M T W T F S S
    « Jul    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • Artikel Terbaru

  • Kategori

  • Kumpulan artikel

  • Masukan terbaru

    • magicalboy chandra: ini benar-benar motivasi buat saya yg lagi terpuruk dan di dalam hidup ini saya yakin gak ada yg...
    • echa: aku ga tau….apakah aku termasuk orang yang termasuk termotivasi apa ga,,,,tapi aku ngerasa,,,,kalo udah...
    • yohanes tantama: Memang tidak mudah tapi semoga kesadaran dari hati nurani masih membuat kita mau bergulat dengan...
    • Tangguh MP: Mr. Yohanes, setelah saya membaca artikel anda, muncul suatu pertanyaan dalam benak saya. bagamiana...
    • tony: Sekalipun tantangan demi tantangan menghadang..Zhang Da tetap tegar menghadapinya. Ketulusan dan kepolosan...
    • tony: Pak Yohanes, tks untuk artikel kaca spion-nya Andy Noya. Itulah sukacita Tuhan yang terpancar pd bung Andy....
    • : Salam kenal juga Pak
    • Rudy Hermawan: Penderitaan mendewasakan orang…cinta membuatnya semakin matang. Terima kasih untuk inspirasi...
    • Yohanes T: 1. Kita bisa berdiskusi Pak saling berbagi pengalaman. Kirim saja email ke yohanes.progress@gmail.com. 2....
    • Dedy Prasetio: Dear Mr Yohaness, saya membaca artikel anda sungguh menggugah saya untuk terus belajar dan belajar...
  • « Mewujudkan Impian Kita Atau Membantu Mewujudkan Impian Orang Lain | Home | The Beauty Of Love »

    Mahalnya Sebuah Karir

    By | January 7, 2009

    Kisah Nyata /bukan tidak jadi masalah

    Yang penting , kita bisa mengabil hikmahnya

    Sebuah kesaksian yang perlu direnungkan….

    Apa yang kita cari sekarang ini….

    Demi uang???? atau Demi Karier???

    Atau…..

    Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah Perusahaan
    multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang
    berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka
    saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan
    menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

    Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru
    saja meninggal karena overdosis narkotika.
    Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih
    terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan
    karena memikirkan musibah ini.

    Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan Sekarang
    masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa
    sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi yang bisa saya
    harapkan.

    Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah
    pembantu kami..

    Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

    Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak
    Begitu hebat pada putri kami.

    Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah
    ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2
    tahun.

    Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

    Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia
    meninggal..

    Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku
    hariannya berisi hal ini.

    Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di
    rumah sakit selama 3 minggu)

    Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya “Hari ini Mama
    sakit di Rumah sakit” , hanya itu saja.

    Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

    Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

    Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.

    Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang
    keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

    Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin
    lebih.

    Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan
    urusan mereka.

    Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun
    sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba
    saya dan suami sudah seperti “robot” yang terprogram untuk urusan kantor.

    Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti
    bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu
    terlalu kuno cara berpikirnya.
    Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6
    orang anaknya.

    Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat
    baik.

    Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan
    penghasilan.

    Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau
    mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan
    hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya
    sekolah tinggi-tinggi? .

    Meski sebenarnya suami saya juga seorang  yang cukup mapan dalam karirnya
    dan penghasilan.

    Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada
    Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti
    asal urusan kantor dan karir fokus saya.

    Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka,
    toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan “kualitas pertemuan
    dengan anak lebih penting dari kuantitas” selalu menjadi patokan saya.

    Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu
    cepat sebelum saya sempat tersadar.

    Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

    Dan saya tidak mengetahuinya! !! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini
    selalu terngiang di telinga.

    Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan
    kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia
    ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka
    akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

    Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
    Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua terjadi ,
    setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal
    dunia di Rumah Sakit.

    Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari
    rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

    Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore
    untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk
    stadium 4 kankernya.

    Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya
    kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu
    kandungnya!
    menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja
    ke dunia.

    Tragis !

    Dan sebuah foto “keluarga” di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau
    lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa
    bik Inah.

    Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas
    sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di
    pesantren.

    Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia
    paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

    Dan difoto “keluarga” itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum
    bersama.

    Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya
    itulah foto terakhirnya.

    Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat
    merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

    Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat
    dengan urusan kantor.

    Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.

    Maya menulis :
    “Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin
    Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
    pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya
    cerita kalau lagi kesel di
    sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur……. …Ya Tuhan ,
    Maya kangen banget sama bik Inah” bukankah itu seharusnya tugas saya
    sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

    Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat
    tidak mungkin bisa kembali,

    seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja
    untuk itu.

    Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya
    pemeran
    utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

    Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi
    sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran
    darinya.

    Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang
    beratnya.

    Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan “prioritas hidup
    dan tidak salah dalam memilihnya”
    . Biarkan saya seorang yang mengalaminya.

    Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk
    menentramkan hati saya.

    Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.

    Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena
    itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi
    inilah faktanya.

    Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

    Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni.

    Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada
    saya.

    Dan disetiap berdoa saya selalu memohon “YA Tuhan seandainya Engkau akan
    menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
    biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram
    di sisiMu”.

    Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

    Salam Nira .

    Topics: inspirational |

    Comments